Respect in the Workplace: Why It Matters and How to Build a Positive Culture

‘Whatever’ was polled as the most annoying word by 34% of Americans in 2019. And the chances that you have said or maybe heard a similar annoying word in your workplace, too.

Jika itu benar, maka Anda perlu mencegah penyebaran budaya ini atau bersiaplah untuk menghadapi kesulitan di masa depan. Jalan menuju kepuasan karyawan dimulai dari rasa hormat di tempat kerja.

Rasa hormat tidak dihargai karena dianggap biasa saja di tempat kerja dan sering disalahpahami dalam konteks yang berbeda. Jadi, mari kita pahami dulu apa arti rasa hormat.

Makna rasa hormat di tempat kerja

Rasa hormat di tempat kerja dapat didefinisikan sebagai atasan/rekan kerja yang mengagumi kualitas dan perilaku orang lain. Dan seorang rekan kerja memperlakukan rekan kerja/supervisor lain dengan baik.

Kata ini memiliki beberapa arti tetapi tidak memiliki definisi yang tepat.

Richard Branson mengatakan; "Rasa hormat adalah bagaimana memperlakukan siapa pun, bukan hanya mereka yang ingin Anda buat terkesan."

Employee respect in the workplace must be independent of discrimination, i.e., regardless of age, designation, gender, color, location, etc. Whether the company's CEO or janitor works there, both deserve to be respected.

However, co-workers must not take it for granted. The leaders/workers need to be professional, polite, and respectful to be treated equally.

Tetapi apakah itu benar-benar penting, Anda mungkin bertanya?

We have drawn a few important points below to illustrate how far a respected workplace can take you and your company.

Pentingnya rasa hormat di tempat kerja

Kita tidak memperhatikan rasa hormat sampai rasa hormat itu tidak ada. Jadi, apa yang terjadi jika tidak ada? Para pekerja mungkin merasa tidak nyaman pada awalnya, namun jika hal ini terus berlanjut, mereka akan merasa stres atau bahkan meninggalkan perusahaan.

💡
Statistik keterlibatan sumber daya manusia menyatakan bahwa 63% karyawan cenderung keluar dalam waktu dua tahun jika mereka tidak merasa dihargai. 

Tidak berhenti sampai di sini. Penelitian ekstensif terhadap 20.000 karyawan di seluruh dunia (yang dilakukan oleh Christine Porath dan Tony Schwartz, serta HBR) membuktikan bahwa semakin tinggi penghargaan yang diberikan atasan, semakin tinggi pula keterlibatan karyawan.

Ini dia.

Dan mengapa Anda harus peduli? Karena karyawan yang tidak loyal merugikan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat hingga $550 miliar per tahun, menurut Forbes. Dan inilah cara lingkungan yang saling menghargai dapat membantu.

1. Meningkatkan kepuasan kerja

A healthy work environment, where employees’ efforts are addressed, fuels the motivation to perform best. In a survey conducted by the Society for Human Resource Management (SHRM), 72% of employees rated 'respectful treatment' as a top-rated behavior for job satisfaction.

2. Mengurangi stres kerja dan meningkatkan semangat kerja

Sebuah studi, Stres di Tempat Kerja: Dampak dan Hasil, oleh Chestnut Global Partners dan SHRM, menunjukkan bahwa rasa tidak hormat adalah penyebab utama stres di kalangan karyawan.

💡
However, respect can also uplift your workforce other than reducing work stress. Televerde, a B2B technology-focused marketing firm, experienced a compound annual growth rate of 8.5% in its last decades. (Source: HBR)

Salah satu alasan utama di balik kesuksesan perusahaan (yang sebagian besar dikelola oleh narapidana wanita, 425 dari 650 narapidana) dan Jim Hooker (CEO) adalah; Dia menghargai wanita yang dipenjara (yang biasanya dianggap merendahkan martabat masyarakat) dengan memberikan mereka identitas sebagai Televerdians.

3. Leads to a knowledgeable environment and company’s growth

Steve Jobs’ success, one of the inspirations to many CEOs, is often credited to his bad behavior with others. However, there’s so much behind the curtains. Edwin Catmull (Pixar’s co-founder), who worked with Steve Jobs for 26 years, says that Jobs’ greatest success came only after he changed from insensitive and impolite to empathetic.

Dengan demikian, perilaku pemimpin menentukan kesehatan di tempat kerja dan pertumbuhan perusahaan.

Contoh-contoh menunjukkan rasa hormat di tempat kerja

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda, dan ketidaksopanan bagi seseorang mungkin merupakan hal yang biasa bagi orang lain. Oleh karena itu, mengukur rasa hormat di tempat kerja menjadi sulit bagi atasan/penyelia dan bahkan rekan kerja.

Ketidaksopanan yang tidak disengaja akan menjadi kebiasaan jika tidak diatasi.

Berikut ini adalah contoh-contoh rasa hormat di tempat kerja:

  • Memperlakukan karyawan dengan hormat tanpa memandang agama, warna kulit, ras, jenis kelamin, lokasi, cacat fisik/verbal/mental, usia, atau apa pun yang membedakan mereka.
  • Mendengarkan secara aktif dan mempertimbangkan saran orang lain jika berguna.
  • Ketidaksepakatan yang sopan tanpa merendahkan logika orang lain dalam rapat atau diskusi pribadi.
  • Kritik yang membangun dan penghargaan atas keterampilan dan dedikasi orang lain.
  • Menerima kelemahan orang lain dan tidak merendahkan mereka atas dasar itu.
  • Menangani perselisihan secara sehat.
  • Perilaku yang tidak bias di tempat kerja dalam hal promosi.
  • Mendorong partisipasi aktif anggota tim dalam rapat/diskusi.
  • Larangan terhadap tindakan beracun seperti ejekan, pelecehan, intimidasi, mengomel, memanggil dengan sebutan yang tidak pantas, memonopoli, dan merendahkan orang lain di tempat kerja.
  • Penggunaan sapaan formal dan kata-kata yang sopan seperti terima kasih dan tolong dalam berbicara.

Kegigihan dan penyebab ketidaksopanan

💡
Stanford Professor Bob Sutton says that disrespectful behavior is contagious. He shared one of the incidents in his memo about a project executive. (Source: McKinsey)

Eksekutif tersebut mengakui bahwa ia menjadi keras dan marah kepada rekan kerjanya untuk menyelesaikan sesuatu, karena itulah yang ia lihat dari para seniornya. Oleh karena itu, menyelesaikan akar penyebab rasa tidak hormat lebih penting daripada sekadar menerapkan perilaku hormat.

Berikut ini adalah penyebab umum ketidaksopanan di tempat kerja:

  • Mesin yang tidak berfungsi dengan baik atau kegagalan sistem dapat menyebabkan perilaku menjengkelkan yang menjadi penyebab frustrasi di antara rekan kerja dan rasa tidak hormat di tempat kerja.
  • Alasan pribadi seperti kecemasan, depresi, rasa tidak aman, agresivitas, dll., juga dapat memicu kemarahan.
  • Cacat mental, penyalahgunaan zat, atau bahkan gangguan kepribadian dapat menjadi alasan dalam beberapa kasus ketidaksopanan di tempat kerja.
  • Perbedaan budaya atau generasi juga merupakan salah satu alasan di balik perilaku tidak sopan.
  • Miskomunikasi antara supervisor dan karyawan juga dapat menimbulkan rasa tidak hormat.

Namun, perilaku tersebut tetap ada karena alasan berikut:

  • Perilaku yang tidak sopan dan lingkungan kerja yang tidak kondusif seperti ayam dan telur. Dan yang satu menyebabkan munculnya yang lain. Survei ISMP tahun 2013 menyimpulkan bahwa hanya seperempat perusahaan yang menangani perilaku tidak sopan.
  • Managers are likely to shield workers' toxic behavior if they are high-revenue producers. Such incidents lead to the persistence of disrespect in the workplace.
  • Selain itu, dalam beberapa kasus, keracunan terus berlanjut karena para manajer tidak mampu menangani situasi tersebut.

Bagaimana cara mempraktikkan rasa hormat di tempat kerja?

Mempraktikkan rasa hormat di tempat kerja bermuara pada dua langkah utama; pencegahan dan penerapan. Mari kita pelajari masing-masing secara mendetail.

1. Prevention of disrespectful behavior

Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah keracunan di tempat kerja.

-> Shut the disrespectful behavior quickly

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, rasa tidak hormat itu menular. Hal ini menyebar dari satu orang ke orang lain. Oleh karena itu, mengatasi perilaku tersebut menjadi kebutuhan mendesak. Ketidakpedulian hanya akan menumbuhkan rasa tidak hormat dan menciptakan lingkungan kerja yang beracun.

Selain itu, tindakan untuk membuat perilaku tersebut tidak dapat ditoleransi menunjukkan pentingnya karyawan di tempat kerja.

Facebook benar-benar berkomitmen dalam hal pencegahan perilaku tidak sopan. Heidi Swartz, kepala hukum ketenagakerjaan global perusahaan, menyatakan bahwa kami melatih karyawan bahwa jika rekan kerja mengatakan "tidak" untuk pergi berkencan dengan Anda, Anda tidak boleh mengajaknya lagi. Namun, "Saya sibuk" atau "Saya tidak bisa malam itu" juga dianggap sebagai jawaban "tidak" yang jelas.

-> Are you the problem?

Perilaku Anda, sebagai supervisor/pemimpin tim atau CEO perusahaan, memberikan contoh kepada tim dan seluruh tempat kerja. Karena otak manusia terhubung dengan kabel, sulit untuk melihat diri kita sendiri melakukan kesalahan yang kita anggap tidak pantas dilakukan oleh orang lain.

Profesor Universitas Stanford, Bob Sutton, berbagi cerita tentang seorang CEO Silicon Valley dan bagaimana timnya menyadarkan dia akan perilakunya yang buruk. Sang CEO sering menghina para supervisor dalam rapat dengan membandingkan mereka dengan sayuran seperti Anda lebih bodoh dari kepala selada.

Timnya membalasnya dengan cerdas. Suatu hari CEO datang ke sebuah rapat, dan dia menemukan kepala selada, bukan anggota timnya di tempat mereka. Beberapa kepala memiliki mata, beberapa tersenyum, dan beberapa mengenakan kacamata hitam.

Bahkan sang CEO menemukan kepala selada di tempatnya. Belakangan, CEO menerima bahwa dia telah bersikap keras terhadap timnya dalam hal pertumbuhan dan pendapatan perusahaan. Selain itu, ia juga menjadi lebih berhati-hati dengan kata-katanya.

-> Conduct surveys & feedback

Lakukan survei dan umpan balik untuk mengetahui apakah perilaku tidak sopan masih terjadi di tempat kerja Anda. Pada tahun 2019, sebuah studi oleh NCBI menemukan bahwa karyawan kulit hitam menghadapi diskriminasi 60% lebih banyak daripada orang kulit putih di tempat kerja. Insiden semacam itu menyebabkan stres dan ketidakpuasan kerja. Umpan balik yang sering dilakukan dapat mencegah perilaku tidak sopan dan menjaga tempat kerja tetap sehat dan terkendali.

2. Adoption of respectful behavior

Berikut adalah cara Anda dapat menyambut perilaku hormat di tempat kerja Anda.

-> Frame a respectful workplace policy

Kebijakan tempat kerja yang saling menghormati membantu karyawan untuk mengetahui batas toleransi di tempat kerja. Selain itu, menyusun kebijakan tempat kerja akan memberi mereka rasa untuk memperbaiki diri.

Buatlah daftar perilaku yang tidak dapat diterima dan panduan (untuk menghindari perilaku tersebut) dalam kebijakan untuk menegakkan rasa saling menghormati di tempat kerja. Anda bahkan dapat menguraikan hukuman yang akan dijatuhkan jika perilaku buruk terus berlanjut.

Here’s Facebook’s policy on dealing with harassment for reference.

Assemble the supervisors in discussion to craft the policy. You can even consider employees’ (former or current) feedback and weave them into the company’s processes to improvise. Heather Huhman (founder and president of Come Recommended) says that employee intervention is a sign of a respected workplace policy.

She suggests that an HR policy must be fluid, and the supervisor must revisit the rules to see if they still make sense.Huhman also says that "if everyone wants to have a specific rule (for example, no dating in the workplace), it must be implemented".

-> Appreciate the respectful employees

Apresiasi memiliki dampak yang besar, tidak hanya bagi individu yang mendapatkan apresiasi, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

Rekan kerja yang menyaksikan orang lain mendapatkan penghargaan akan berusaha untuk menjadi seperti orang lain atau bahkan lebih baik. Ini adalah cara yang sangat baik untuk mendorong perilaku hormat di tempat kerja karena hal ini juga meniadakan gagasan untuk menerima rasa hormat begitu saja.

Create a respectful culture with Empuls

Respect is foundational to creating a healthy company culture and productivity, retention, and long-term success.

To connect this with Empuls, here's how the platform directly supports fostering a culture of respect and recognition in the workplace:

1. Detect & prevent disrespect with surveys

Empuls empowers HR and leaders to listen continuously through:

  • eNPS and pulse surveys to detect disengagement early.
  • Lifecycle surveys (from onboarding to exit) that reveal friction points and areas lacking respect or inclusion.
  • 360° feedback and anonymous surveys to identify disrespectful behaviors—especially those that go unreported.

These insights drive targeted, respectful culture initiatives.​

2. Promote respect with recognition

Empuls helps build a culture of appreciation through:

  • Peer-to-peer recognition for everyday contributions.
  • Core values-based awards to reinforce respectful behaviors.
  • Smart nudges from Em (AI assistant) that prompt timely appreciation, closing the “recognition gap.”

Automated service awards and milestone celebrations to show long-term respect and gratitude​​.

Recognition isn’t occasional—it’s continuous and inclusive with Empuls.

3. Facilitate respectful communication

Empuls’ Social Intranet boosts respectful, transparent dialogue via:

  • Townhalls with interactive posts, polls, and AMAs.
  • Wishboards for birthdays, life events, and service anniversaries.
  • Community groups that create psychological safety and foster inclusivity​.

With features like emojis, likes, GIFs, and moderation controls, conversations stay fun, kind, and positive.

4. Reinforce positive behavior with rewards

Empuls encourages respectful engagement by:

  • Rewarding collaborative behavior, wellness, learning, and team efforts.
  • Offering non-monetary and monetary incentives via a rich global catalog: gift cards, experiences, wellness, donations, and more​.

Employees who live the values are appreciated publicly and rewarded meaningfully.

5. Manager & HR enablement

Empuls provides:

  • AI-powered manager insights to ensure no team member is left unrecognized.
  • Automation tools for consistent reward cycles and milestone celebrations.
  • Privacy and branding controls to maintain a safe, professional digital workspace​.

Let’s outline a Respectful Workplace Policy leveraging Empuls features. This policy will serve two purposes:

-> Set clear expectations for respectful behavior.

-> Use Empuls to reinforce, recognize, and reward that behavior.

Respectful workplace policy (Empuls-enabled)

Following is how you set a respectful culture with Empuls:

1. Tujuan

To foster a workplace where every employee feels valued, heard, and safe through respectful, inclusive, and professional behavior. This policy supports our DEI and engagement goals and is operationalized through Empuls.

2. Scope

Applies to all employees, contractors, and interns, across physical and digital workspaces—including Empuls' social feed, community groups, and recognition features

3. Core principles

Treat everyone with dignity—regardless of title, background, or beliefs.

  • Communicate openly but with empathy
  • Embrace diversity of thought and background.
  • Offer feedback constructively and accept it graciously.
  • Celebrate each other's wins, milestones, and contributions.
  • Use digital platforms (like Empuls) responsibly and respectfully.

4. Behaviors that reflect respect

To be recognized and encouraged via Empuls Rewards & Recognition:

  • Active listening and inclusive collaboration
  • Timely appreciation of peers (using peer-to-peer recognition)
  • Polite disagreement during team discussions
  • Inclusion of all voices in meetings (especially underrepresented ones)
  • Sharing thoughtful feedback in surveys or community discussions

Reward these behaviors with values-based or spot awards on Empuls.

5. Unacceptable behaviors

To be flagged via surveys, feedback, or community moderation:

  • Bullying, taunting, or belittling others
  • Discrimination (age, gender, race, etc.)
  • Interrupting or ignoring others’ contributions
  • Toxic gossip, passive aggression, or sarcasm
  • Abusive or unprofessional language in Empuls posts/comments

HR or designated moderators will review flagged content or survey trends.

6. Feedback & enforcement

Use eNPS, pulse, and 360° surveys in Empuls to gather feedback regularly:

  • Employees can report disrespect confidentially.
  • Empuls admins and HR will take action based on trends and direct feedback.
  • Repeat violations will lead to progressive disciplinary action.

7. Recognition & celebration

Promote respect by celebrating:

  • Core value champion
  • Milestone service anniversaries
  • Respectful team players nominated monthly
  • Use AI-powered nudges from Em to remind managers to recognize deserving employees.

Display recognitions on Empuls’ Wall of Fame or digital displays across the office.

8. Communications & awareness

Post this policy on the Empuls Social Intranet:

  • Use interactive content like polls or quizzes to raise awareness.
  • Reinforce during townhalls and community groups.

Schedule a call with Empuls to understand the tailored specifics that you will avail to create a culture of respect.

Kesimpulan

Memang benar bahwa ketika rasa hormat hadir di tempat kerja, sangat sedikit orang yang mengaguminya, dan begitu juga dengan perusahaan. Namun, ketiadaannya dapat menimbulkan konsekuensi yang dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan perusahaan, talenta yang sangat baik, tingkat retensi karyawan, dan banyak lagi.

Singkatnya, perusahaan mulai tenggelam. Oleh karena itu, tetaplah waspada untuk mengidentifikasi apakah rasa hormat ada di tempat kerja dan ambil tindakan yang diperlukan untuk mempertahankannya.

150 Contoh Tinjauan Kinerja
Pesan Tahun Baru Perusahaan yang Memotivasi
Pertanyaan Tinjauan Rekan Kerja untuk Evaluasi yang Efektif
Contoh Sasaran Kinerja Karyawan
Strategi untuk Mengurangi Ketidakhadiran Karyawan
Perilaku Karyawan yang Perlu Diakui dan Dihargai
Pesan Apresiasi Tim yang Memotivasi